Oleh: ITA MUSARROFA
* Disapaikan dalam diskusi elkastra, Sabtu 13 Januari 2013
Pendahuluan
Diakui bahwa muslim secara kuantitatif menempati posisi mayoritas dengan asumsi bahwa umat Islam mencapai paling tidak 70 persen dari keseluruhan jumlah penduduk di 35 negara. Mayoritas sosiologis atas keagamaan memang tidak selalu mayoritas dalam arti politik tapi ada kecenderungan mutakhir umat Islam untuk menegaskan diri dalam arti politik.
Fenomena ini terkait dengan apa yang disebut-sebut sebagai kebangkitan Islam yang berasal dari keprihatinan pada kondisi umat yang lemah dan terpecah-pecah. Upaya-upaya untuk bangkit dilakukan dengan mencari jawaban yang memadai, dari tradisi Islam, terhadap problem sosial, ekonomi dan politik yang dihadapi umat.
Senin, 14 Januari 2013
Sabtu, 19 Mei 2012
Sikap Toleran dan Intoleran Dalam Menyikapi Perbedaan (Tweets Pilihan Oleh Anies Baswedan: @aniesbaswedan)
Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina) mulai menulis Tweetnya tentang sikap toleran dan intoleran dalam menghadapi perbedaan sejak tanggal 16 Mei 2012 dengan hashtag #toleran. Tweet ini ditulis oleh Anies sebagai tanggapan atas kisruh pembubaran diskusi dan peluncuran buku Irshad Manji yang dimulai di Jakarta (04 Mei 2012) dan dilanjutkan dengan Yogyakarta (CRCS UGM, UIN dan LKiS). Anies melihat perbedaan sebagai hal yang wajar. Bagi Anies, konflik kekerasan antar aliran bukanlah terutama disebabkan oleh soal ajaran. Mencari sumber kekerasan dalam ajaran, bagi Anies, ibarat mencari kunci di jalan padahal hilangnya di dalam rumah.
Simak tweet lengkapnya berikut ini::
16 Mei 2012
Simak tweet lengkapnya berikut ini::
16 Mei 2012
- Saat ada kekerasan bersumber pd sikap intoleran mk tangkap&hukum pelakunya bukan malah diskusi soal sikap #toleran
- Manusia intoleran akan selalu ada. Tak perlu kaget-heran-kecewa. Tak mungkin semua orang sikapnya :)
- Negara memang tak bs atur perasaan, pikiran & hati seseorang. Cara mengekspresikannyalah yg bisa diatur.
- Kita sering habiskan waktu ngomong soal pikiran/ajaran yg tak-toleran, pdhl pelanggarannya pd perbuatannya
- Pikiran2nya tak-toleran itu urusan ybs. Tp saat perbuatannya langgar hukum mk langsung tampar dng hukuman yg menjerakan
- Pikirannya tak bisa dihukum. Perbuatannya yg bisa dihukum. Jd fokus pada perbuatannya, bukan pikirannya.
- Kita senang mbahas soal niat. Pdhl niat itu urusan ybs dng Tuhan. Perbuatannya yg jd urusan ybs dng kita
- Kekerasan a/n apapun salah & negara tidak boleh loyo. Tangkap pelakunya & dihukum yg men-jera-kan.
- Membiarkan tindak kekerasan thd sesama warga negara adalah resep mujarab utk menularkan kekerasan
- Kebebasan itu dipakai dng cara terhormat. Dipakai utk tukar pikiran dng mutu. Bukan asal sensasi
- Gunakan mimbar kebebasan dng kompeten. Ide biar sj besebrangan tp pakai kompetensi jd bs diskusi, bs belajar.
- Toh pada prinsip-nya, lawan debat adalah teman berfikir.
- Kita sering temui individu2 yg manfaatkan kebebasan utk gandakan pandangan2 ekstrim. Seakan menguji batas
#toleran - Misalnya atas nama kebebasan beri forum bagi Irsyad Mandji. Scr hukum ya sah2 saja, tp buat sy itu tak menarik.
- Ada terlalu banyak pemikir2 betulan & kritis -bkn sekadar sensasional- yg lebih pantas diberi forum diskusi.
- Hak berdiskusi mmng hrs dijaga. Tp menggunakan hak scr serampangan = merendahkan makna kebebasan
- Dlm banyak kasus 2 ekstrim saling memaksakan diri: a/n ajaran agama vs a/n kebebasan berekspresi.
- Dua2nya tak berdialog, cuma numpang iklim bebas. Yg satu provokasi pakai pena, satunya pakai pentungan.
Terima kasih telah simak, td nulis sambil di perjalanan, skrng sdh sampai. Jd twit-nya dilanjut esok2 :)
Lanjutan 19 Mei 2012 - Saat ada wabah kekerasan, akurasi dlm membaca sumber masalah amat menentukan langkah2 solusi yg manjur.
- Saat ada wabah kekerasan analis2 "berjasa" memperumit masalah dng fokus pd ideologi-pikiran-aliran dll
- Alliran2 ekstrim itu bukan baru. Umurnya setua agama2. Tp ideologi2 dibahas spt baru lahir seminggu yl.
- Jika beda aliran = sumber kekerasan maka maka harus-nya kita sdh scr rutin panen kekerasan
- Jika beda sunni-syiah adalah sumber konflik maka harusnya wabah kekerasan itu ada seumur islam di Nusantara
- Bila defiasi ajaran (ahmadiyah) adalah sumbernya mk kekerasan itu tentunya amat rutin dlm seabad terakhir
- Bila wahabi=produsen teroris mk harusnya teror itu menjalar sejak beratus tahun yl bukan cm sejak 1990an
- Paling enak ya bicara ajaran. Menawan, seakan bicara akar masalah tp tak kunjung jumpai solusi ttg wabah kekerasan
- Spt kisah sufi: malam2 kunci jatuh & dicari dipinggir jalan pdhl jatuhnya di rumah. Alasan: di jalan ada lampu, di rumah gelap
- Mengedepankan ancaman2 ideologi itu jg mudah utk cari dukungan bg kegiatan2nya. Senang bicarakan ajaran "lawan"
- Kaum konservatif khotbah2nya tentang ancaman liberalisme. Kaum liberal tulisan2nya ttg ancaman konservatisme.
- Ada 2 hal beda: 1) Kompetisi antar ideologi/pemikiran & 2). wabah kekerasan. Yg jd problem itu wabah kekerasan
- Kompetisi pemikiran itu wajar, normal & tak melanggar apa2. Tp begitu ada pemaksaan/kekerasan maka ia jd problem
Mohon izin, turun layar sinyal dulu. Nanti dilanjut soal#toleran; Skrng masuk arena mulia, tugas jd saksi pernikahan :)
Lanjutan di hari yang sama. - Menganalisa ajaran-ideologi pelaku kekerasan itu menarik & mempesona tp umumnya tak hasilkan solusi
- Mengharapkan semua orang senang melihat kebhinekaan itu juga hampir mustahil terjadi :)
- Kebhinekaan itu sering dianggap masalah. Padahal kebhinekaan itu fakta, bukan problem
- Kebhinekaan itu dijaga dng hukum. Misalnya, muslim di Jerman ingin jalankan ajrn Islam, dirikan masjid2 dll
- Jika tanya pd warga-lama Jerman senangkah mrk melihat masjid2 yg dibangun imigran2 Turki itu ?
- Ada yg biasa2 & ada yg tak nyaman. Tp Negara tdk bisa atur perasaan warganya utk suka/taksuka dng adanya masjid2 itu
- Perasaannya adalah urusan pribadinya tp jika ada lisan & aksi ancam sesama warga maka Negara wajib tegakan hukum
- Tak perlu dibahas pelakunya grup neo-nazi atau bukan, begitu ia lakukan kekerasan maka negara hrs menghukum
- Sudah saatnya pandang kekerasan sbg tindakan warga negara melawan hukum. Apapun ideologi/pikiran si pelakunya
- Saat ada kekerasan jangan tanya aliran/agama/etnis korbannya & pelakunya cukup tangkap & hukum pelakunya
- Makin dianalisa dlm bingkai ideologi,agama,aliran dll maka makin membuat penegak hukum "enggan" bertindak
- Ada analis2 yg justru memperumit masalah dng membingkai wabah kekerasan sbg soal ajaran dll bukan sbg soal pelanggaran hukum
- Kekerasan jd wabah&menjalar saat ia dibiarkan, tak dihukum. Apalagi bila pelakunya jd pahlawan, bukan jd narapidana
- Hal paling urgen utk meniadakan kekerasan adalah MEMBERESKAN aparat penegak hukum, bukan debat ajaran2
- Aparat penegak hukum yg "lemah" & tak-tegas adalah "partner" idaman bagi para pelaku kekerasan.
- Tindak kekerasan yg repetitif umumnya adalah pilihan kalkulatif, rasional. Bungkus-nya bisa saja bhs ideologis.
- Adanya penegak hukum yg berani & ancaman hukuman berat bs membuat kekerasan bukan lagi pilihan rasional.
- Menghukum pelaku kekerasan itu jauh lebih cepat efek jeranya & efek tularnya, dibandingkan debat ajaran2.
- Debat2 sdh ada berdekade2 bahkan abad & takkan selesai minggu depan. Kekerasan harusnya sdh selesai kemarin
- Penegak hukum hrs lihat kekerasan sbg problem hukum, bukan sbg problem ideologi2
- Tugas Penegak Hukum memang utk menegakkan hukum bukan utk memikirkan soal ideologi2. Jd jangan dicampur.
- Negara cenderung akan damai jika ada kepastian hukum, apalagi jika hadir rasa keadilan.
- Akhirnya -sbg penutup- damai itu bukan soal tiadanya kekerasan tapi soal hadirnya rasa keadilan.
- Demikian sharing
#toleran ; mohon maaf bagi tiap salah-kata, salah-pikir & sebangsanya. Terima-kasih telah berbaik hati membacanya ....
Label:
Tulisan
Sabtu, 04 Februari 2012
Agenda Diskusi
Untuk sementara, pertemuan plus diskusi kita lakukan via facebook (Grup eLK@STra (Lembaga Kajian Spiritualitas Transformatif), klo sudah memungkinkan bisa ngadain pertemuan di darat. :)
Sebagai bahan diskusi, kawan-kawan silahkan membuat tulisan untuk dimuat di website ini. Caranya ada di sini (klik saja). Ini tak ubahnya diskusi di dunia nyata, jadi bagi narasumber (penulis) jika ingin mendapat sertifikat bisa kontak saya. :) Biar cepet terlaksana rencana ini, bagi yang punya tulisan, model dan gaya seperti apapun, silahkan cepat-cepat dikirimkan ke kami.
Itu tahap awal, nanti akan kita lihat apa yang bisa kita lakukan selanjutnya, termasuk barangkali ada yang bisa kita lakukan secara riil untuk masyarakat kita. :)
Sebagai bahan diskusi, kawan-kawan silahkan membuat tulisan untuk dimuat di website ini. Caranya ada di sini (klik saja). Ini tak ubahnya diskusi di dunia nyata, jadi bagi narasumber (penulis) jika ingin mendapat sertifikat bisa kontak saya. :) Biar cepet terlaksana rencana ini, bagi yang punya tulisan, model dan gaya seperti apapun, silahkan cepat-cepat dikirimkan ke kami.
Itu tahap awal, nanti akan kita lihat apa yang bisa kita lakukan selanjutnya, termasuk barangkali ada yang bisa kita lakukan secara riil untuk masyarakat kita. :)
Label:
Agenda
Sabtu, 28 Januari 2012
Paradigma Spiritualitas Transformatif
oleh: husnul muttaqin
Pengantar
Pengantar
Apakah yang menggerakkan sejarah?. Materi!, teriak Marx. Marx mengimani sepenuhnya bahwa kondisi material-yang berwujud teknologi, struktur ekonomi atau alat-alat produksi-adalah penentu gerak sejarah. Melalui kepercayaan yang begitu kukuh atas konsep historical materialism, (materialisme historis),[1] Marx menegaskan, kondisi material kita menentukan kesadaran kita. Agama kita sangat ditentukan oleh posisi ekonomi kita di tengah masyarakat. Versi-versi keberagamaan kita sangat ditentukan oleh status sosial ekonomi.[2]
Label:
Tulisan
Langganan:
Postingan (Atom)

