Sabtu, 19 Mei 2012

Sikap Toleran dan Intoleran Dalam Menyikapi Perbedaan (Tweets Pilihan Oleh Anies Baswedan: @aniesbaswedan)

Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina) mulai menulis Tweetnya tentang sikap toleran dan intoleran dalam menghadapi perbedaan sejak tanggal 16 Mei 2012 dengan hashtag #toleran. Tweet ini ditulis oleh Anies sebagai tanggapan atas kisruh pembubaran diskusi dan peluncuran buku Irshad Manji yang dimulai di Jakarta (04 Mei 2012) dan dilanjutkan dengan Yogyakarta (CRCS UGM, UIN dan LKiS). Anies melihat perbedaan sebagai hal yang wajar. Bagi Anies, konflik kekerasan antar aliran bukanlah terutama disebabkan oleh soal ajaran. Mencari sumber kekerasan dalam ajaran, bagi Anies, ibarat mencari kunci di jalan padahal hilangnya di dalam rumah.


Simak tweet lengkapnya berikut ini::

 16 Mei 2012
  1. Saat ada kekerasan bersumber pd sikap intoleran mk tangkap&hukum pelakunya bukan malah diskusi soal sikap #toleran
  2. Manusia intoleran akan selalu ada. Tak perlu kaget-heran-kecewa. Tak mungkin semua orang sikapnya :)
  3. Negara memang tak bs atur perasaan, pikiran & hati seseorang. Cara mengekspresikannyalah yg bisa diatur.
  4. Kita sering habiskan waktu ngomong soal pikiran/ajaran yg tak-toleran, pdhl pelanggarannya pd perbuatannya
  5. Pikiran2nya tak-toleran itu urusan ybs. Tp saat perbuatannya langgar hukum mk langsung tampar dng hukuman yg menjerakan
  6. Pikirannya tak bisa dihukum. Perbuatannya yg bisa dihukum. Jd fokus pada perbuatannya, bukan pikirannya.
  7. Kita senang mbahas soal niat. Pdhl niat itu urusan ybs dng Tuhan. Perbuatannya yg jd urusan ybs dng kita
  8. Kekerasan a/n apapun salah & negara tidak boleh loyo. Tangkap pelakunya & dihukum yg men-jera-kan.
  9. Membiarkan tindak kekerasan thd sesama warga negara adalah resep mujarab utk menularkan kekerasan
  10. Kebebasan itu dipakai dng cara terhormat. Dipakai utk tukar pikiran dng mutu. Bukan asal sensasi
  11. Gunakan mimbar kebebasan dng kompeten. Ide biar sj besebrangan tp pakai kompetensi jd bs diskusi, bs belajar.
  12. Toh pada prinsip-nya, lawan debat adalah teman berfikir.
  13. Kita sering temui individu2 yg manfaatkan kebebasan utk gandakan pandangan2 ekstrim. Seakan menguji batas  
  14. Misalnya atas nama kebebasan beri forum bagi Irsyad Mandji. Scr hukum ya sah2 saja, tp buat sy itu tak menarik.
  15. Ada terlalu banyak pemikir2 betulan & kritis -bkn sekadar sensasional- yg lebih pantas diberi forum diskusi.
  16. Hak berdiskusi mmng hrs dijaga. Tp menggunakan hak scr serampangan = merendahkan makna kebebasan
  17. Dlm banyak kasus 2 ekstrim saling memaksakan diri: a/n ajaran agama vs a/n kebebasan berekspresi.
  18. Dua2nya tak berdialog, cuma numpang iklim bebas. Yg satu provokasi pakai pena, satunya pakai pentungan.

    Terima kasih telah simak, td nulis sambil di perjalanan, skrng sdh sampai. Jd twit-nya dilanjut esok2 :)

    Lanjutan 19 Mei 2012
  19. Saat ada wabah kekerasan, akurasi dlm membaca sumber masalah amat menentukan langkah2 solusi yg manjur.
  20. Saat ada wabah kekerasan analis2 "berjasa" memperumit masalah dng fokus pd ideologi-pikiran-aliran dll
  21.  Alliran2 ekstrim itu bukan baru. Umurnya setua agama2. Tp ideologi2 dibahas spt baru lahir seminggu yl.
  22. Jika beda aliran = sumber kekerasan maka maka harus-nya kita sdh scr rutin panen kekerasan
  23. Jika beda sunni-syiah adalah sumber konflik maka harusnya wabah kekerasan itu ada seumur islam di Nusantara
  24. Bila defiasi ajaran (ahmadiyah) adalah sumbernya mk kekerasan itu tentunya amat rutin dlm seabad terakhir
  25. Bila wahabi=produsen teroris mk harusnya teror itu menjalar sejak beratus tahun yl bukan cm sejak 1990an
  26. Paling enak ya bicara ajaran. Menawan, seakan bicara akar masalah tp tak kunjung jumpai solusi ttg wabah kekerasan
  27. Spt kisah sufi: malam2 kunci jatuh & dicari dipinggir jalan pdhl jatuhnya di rumah. Alasan: di jalan ada lampu, di rumah gelap 
  28. Mengedepankan ancaman2 ideologi itu jg mudah utk cari dukungan bg kegiatan2nya. Senang bicarakan ajaran "lawan" 
  29. Kaum konservatif khotbah2nya tentang ancaman liberalisme. Kaum liberal tulisan2nya ttg ancaman konservatisme. 
  30. Ada 2 hal beda: 1) Kompetisi antar ideologi/pemikiran & 2). wabah kekerasan. Yg jd problem itu wabah kekerasan 
  31. Kompetisi pemikiran itu wajar, normal & tak melanggar apa2. Tp begitu ada pemaksaan/kekerasan maka ia jd problem

    Mohon izin, turun layar sinyal dulu. Nanti dilanjut soal ; Skrng masuk arena mulia, tugas jd saksi pernikahan :)

    Lanjutan di hari yang sama.
  32.  Menganalisa ajaran-ideologi pelaku kekerasan itu menarik & mempesona tp umumnya tak hasilkan solusi
  33. Mengharapkan semua orang senang melihat kebhinekaan itu juga hampir mustahil terjadi :)
  34. Kebhinekaan itu sering dianggap masalah. Padahal kebhinekaan itu fakta, bukan problem
  35. Kebhinekaan itu dijaga dng hukum. Misalnya, muslim di Jerman ingin jalankan ajrn Islam, dirikan masjid2 dll
  36. Jika tanya pd warga-lama Jerman senangkah mrk melihat masjid2 yg dibangun imigran2 Turki itu ?
  37. Ada yg biasa2 & ada yg tak nyaman. Tp Negara tdk bisa atur perasaan warganya utk suka/taksuka dng adanya masjid2 itu  
  38. Perasaannya adalah urusan pribadinya tp jika ada lisan & aksi ancam sesama warga maka Negara wajib tegakan hukum
  39.  Tak perlu dibahas pelakunya grup neo-nazi atau bukan, begitu ia lakukan kekerasan maka negara hrs menghukum
  40. Sudah saatnya pandang kekerasan sbg tindakan warga negara melawan hukum. Apapun ideologi/pikiran si pelakunya
  41. Saat ada kekerasan jangan tanya aliran/agama/etnis korbannya & pelakunya cukup tangkap & hukum pelakunya
  42. Makin dianalisa dlm bingkai ideologi,agama,aliran dll maka makin membuat penegak hukum "enggan" bertindak
  43. Ada analis2 yg justru memperumit masalah dng membingkai wabah kekerasan sbg soal ajaran dll bukan sbg soal pelanggaran hukum  
  44. Kekerasan jd wabah&menjalar saat ia dibiarkan, tak dihukum. Apalagi bila pelakunya jd pahlawan, bukan jd narapidana
  45. Hal paling urgen utk meniadakan kekerasan adalah MEMBERESKAN aparat penegak hukum, bukan debat ajaran2
  46. Aparat penegak hukum yg "lemah" & tak-tegas adalah "partner" idaman bagi para pelaku kekerasan.
  47. Tindak kekerasan yg repetitif umumnya adalah pilihan kalkulatif, rasional. Bungkus-nya bisa saja bhs ideologis.
  48. Adanya penegak hukum yg berani & ancaman hukuman berat bs membuat kekerasan bukan lagi pilihan rasional.
  49. Menghukum pelaku kekerasan itu jauh lebih cepat efek jeranya & efek tularnya, dibandingkan debat ajaran2.
  50. Debat2 sdh ada berdekade2 bahkan abad & takkan selesai minggu depan. Kekerasan harusnya sdh selesai kemarin
  51. Penegak hukum hrs lihat kekerasan sbg problem hukum, bukan sbg problem ideologi2
  52. Tugas Penegak Hukum memang utk menegakkan hukum bukan utk memikirkan soal ideologi2. Jd jangan dicampur.
  53. Negara cenderung akan damai jika ada kepastian hukum, apalagi jika hadir rasa keadilan.
  54. Akhirnya -sbg penutup- damai itu bukan soal tiadanya kekerasan tapi soal hadirnya rasa keadilan.
  55. Demikian sharing ; mohon maaf bagi tiap salah-kata, salah-pikir & sebangsanya. Terima-kasih telah berbaik hati membacanya ....
Demikian tweet lengkap Anies Baswedan (@aniesbaswedan) seputar #toleran.