Simak tweet lengkapnya berikut ini::
16 Mei 2012
- Saat ada kekerasan bersumber pd sikap intoleran mk tangkap&hukum pelakunya bukan malah diskusi soal sikap #toleran
- Manusia intoleran akan selalu ada. Tak perlu kaget-heran-kecewa. Tak mungkin semua orang sikapnya :)
- Negara memang tak bs atur perasaan, pikiran & hati seseorang. Cara mengekspresikannyalah yg bisa diatur.
- Kita sering habiskan waktu ngomong soal pikiran/ajaran yg tak-toleran, pdhl pelanggarannya pd perbuatannya
- Pikiran2nya tak-toleran itu urusan ybs. Tp saat perbuatannya langgar hukum mk langsung tampar dng hukuman yg menjerakan
- Pikirannya tak bisa dihukum. Perbuatannya yg bisa dihukum. Jd fokus pada perbuatannya, bukan pikirannya.
- Kita senang mbahas soal niat. Pdhl niat itu urusan ybs dng Tuhan. Perbuatannya yg jd urusan ybs dng kita
- Kekerasan a/n apapun salah & negara tidak boleh loyo. Tangkap pelakunya & dihukum yg men-jera-kan.
- Membiarkan tindak kekerasan thd sesama warga negara adalah resep mujarab utk menularkan kekerasan
- Kebebasan itu dipakai dng cara terhormat. Dipakai utk tukar pikiran dng mutu. Bukan asal sensasi
- Gunakan mimbar kebebasan dng kompeten. Ide biar sj besebrangan tp pakai kompetensi jd bs diskusi, bs belajar.
- Toh pada prinsip-nya, lawan debat adalah teman berfikir.
- Kita sering temui individu2 yg manfaatkan kebebasan utk gandakan pandangan2 ekstrim. Seakan menguji batas
#toleran - Misalnya atas nama kebebasan beri forum bagi Irsyad Mandji. Scr hukum ya sah2 saja, tp buat sy itu tak menarik.
- Ada terlalu banyak pemikir2 betulan & kritis -bkn sekadar sensasional- yg lebih pantas diberi forum diskusi.
- Hak berdiskusi mmng hrs dijaga. Tp menggunakan hak scr serampangan = merendahkan makna kebebasan
- Dlm banyak kasus 2 ekstrim saling memaksakan diri: a/n ajaran agama vs a/n kebebasan berekspresi.
- Dua2nya tak berdialog, cuma numpang iklim bebas. Yg satu provokasi pakai pena, satunya pakai pentungan.
Terima kasih telah simak, td nulis sambil di perjalanan, skrng sdh sampai. Jd twit-nya dilanjut esok2 :)
Lanjutan 19 Mei 2012 - Saat ada wabah kekerasan, akurasi dlm membaca sumber masalah amat menentukan langkah2 solusi yg manjur.
- Saat ada wabah kekerasan analis2 "berjasa" memperumit masalah dng fokus pd ideologi-pikiran-aliran dll
- Alliran2 ekstrim itu bukan baru. Umurnya setua agama2. Tp ideologi2 dibahas spt baru lahir seminggu yl.
- Jika beda aliran = sumber kekerasan maka maka harus-nya kita sdh scr rutin panen kekerasan
- Jika beda sunni-syiah adalah sumber konflik maka harusnya wabah kekerasan itu ada seumur islam di Nusantara
- Bila defiasi ajaran (ahmadiyah) adalah sumbernya mk kekerasan itu tentunya amat rutin dlm seabad terakhir
- Bila wahabi=produsen teroris mk harusnya teror itu menjalar sejak beratus tahun yl bukan cm sejak 1990an
- Paling enak ya bicara ajaran. Menawan, seakan bicara akar masalah tp tak kunjung jumpai solusi ttg wabah kekerasan
- Spt kisah sufi: malam2 kunci jatuh & dicari dipinggir jalan pdhl jatuhnya di rumah. Alasan: di jalan ada lampu, di rumah gelap
- Mengedepankan ancaman2 ideologi itu jg mudah utk cari dukungan bg kegiatan2nya. Senang bicarakan ajaran "lawan"
- Kaum konservatif khotbah2nya tentang ancaman liberalisme. Kaum liberal tulisan2nya ttg ancaman konservatisme.
- Ada 2 hal beda: 1) Kompetisi antar ideologi/pemikiran & 2). wabah kekerasan. Yg jd problem itu wabah kekerasan
- Kompetisi pemikiran itu wajar, normal & tak melanggar apa2. Tp begitu ada pemaksaan/kekerasan maka ia jd problem
Mohon izin, turun layar sinyal dulu. Nanti dilanjut soal#toleran; Skrng masuk arena mulia, tugas jd saksi pernikahan :)
Lanjutan di hari yang sama. - Menganalisa ajaran-ideologi pelaku kekerasan itu menarik & mempesona tp umumnya tak hasilkan solusi
- Mengharapkan semua orang senang melihat kebhinekaan itu juga hampir mustahil terjadi :)
- Kebhinekaan itu sering dianggap masalah. Padahal kebhinekaan itu fakta, bukan problem
- Kebhinekaan itu dijaga dng hukum. Misalnya, muslim di Jerman ingin jalankan ajrn Islam, dirikan masjid2 dll
- Jika tanya pd warga-lama Jerman senangkah mrk melihat masjid2 yg dibangun imigran2 Turki itu ?
- Ada yg biasa2 & ada yg tak nyaman. Tp Negara tdk bisa atur perasaan warganya utk suka/taksuka dng adanya masjid2 itu
- Perasaannya adalah urusan pribadinya tp jika ada lisan & aksi ancam sesama warga maka Negara wajib tegakan hukum
- Tak perlu dibahas pelakunya grup neo-nazi atau bukan, begitu ia lakukan kekerasan maka negara hrs menghukum
- Sudah saatnya pandang kekerasan sbg tindakan warga negara melawan hukum. Apapun ideologi/pikiran si pelakunya
- Saat ada kekerasan jangan tanya aliran/agama/etnis korbannya & pelakunya cukup tangkap & hukum pelakunya
- Makin dianalisa dlm bingkai ideologi,agama,aliran dll maka makin membuat penegak hukum "enggan" bertindak
- Ada analis2 yg justru memperumit masalah dng membingkai wabah kekerasan sbg soal ajaran dll bukan sbg soal pelanggaran hukum
- Kekerasan jd wabah&menjalar saat ia dibiarkan, tak dihukum. Apalagi bila pelakunya jd pahlawan, bukan jd narapidana
- Hal paling urgen utk meniadakan kekerasan adalah MEMBERESKAN aparat penegak hukum, bukan debat ajaran2
- Aparat penegak hukum yg "lemah" & tak-tegas adalah "partner" idaman bagi para pelaku kekerasan.
- Tindak kekerasan yg repetitif umumnya adalah pilihan kalkulatif, rasional. Bungkus-nya bisa saja bhs ideologis.
- Adanya penegak hukum yg berani & ancaman hukuman berat bs membuat kekerasan bukan lagi pilihan rasional.
- Menghukum pelaku kekerasan itu jauh lebih cepat efek jeranya & efek tularnya, dibandingkan debat ajaran2.
- Debat2 sdh ada berdekade2 bahkan abad & takkan selesai minggu depan. Kekerasan harusnya sdh selesai kemarin
- Penegak hukum hrs lihat kekerasan sbg problem hukum, bukan sbg problem ideologi2
- Tugas Penegak Hukum memang utk menegakkan hukum bukan utk memikirkan soal ideologi2. Jd jangan dicampur.
- Negara cenderung akan damai jika ada kepastian hukum, apalagi jika hadir rasa keadilan.
- Akhirnya -sbg penutup- damai itu bukan soal tiadanya kekerasan tapi soal hadirnya rasa keadilan.
- Demikian sharing
#toleran ; mohon maaf bagi tiap salah-kata, salah-pikir & sebangsanya. Terima-kasih telah berbaik hati membacanya ....

0 komentar:
Posting Komentar